Pernahkah anda terfikir tentang spesies ikan yang paling rare atau paling jarang ditemui? Apa yang terbayang dalam minda anda? Mungkin anda terbayang beberapa spesies yang mempunyai rupa yang agak ganjil dan jarang dilihat.
Ads
Namun tahukah anda, salah satu ikan yang paling ‘rare’ atau jarang ditemui di dunia ialah spesies yang digelar Devils Hole pupfish.
Pada April 2003, dianggarkan hanya terdapat kira-kira 35 ekor spesies ini sahaja yang tinggal dalam persekitaran aslinya.
Ads
Walaupun jumlah itu menunjukkan sedikit peningkatan, populasi ikan ini dalam habitat asalnya tidak pernah mencatatkan jumlah lebih daripada 500 ekor walaupun pada musim luruh iaitu waktu di mana populasi spesies ini berada pada tahap paling tinggi.
Devils Hole pupfish juga merupakan antara spesies yang pertama dilindungi di bawah akta Endangered Species Act. Ikan yang berukuran sekitar 2 cm panjang ini hanya boleh ditemui di satu lokasi sahaja iaitu Devils Hole, sebuah sistem kolam gua semula jadi di Death Valley, Nevada.
Ikan ini hidup di dalam kolam berbatu kapur yang hanya mempunyai ruang terhad kira-kira 2 meter lebar dan 4 meter panjang sepanjang hidupnya. Rupanya tidaklah menakutkan atau ganjil bukan? Macam rupa ikan puyu pun ada.
Tak kumpau punya, baca lah UMPAN seeNI!
Download
sekarang!
Rainbow lobster atau multicolor lobster (Panulirus versicolor) hidup pada kedalaman 5 – 30 meter (Subani, 1977 in Hasrun, 1996). Banyak spesies yang hidup pada substrat yang berbatu-batu, lumpur atau pasir dan membuat lubang.
Kebanyakan lobster memilih tempat-tempat yang berbatu karang, di balik batu karang yang hidup maupun batu karang yang mati, pada pasir berbatu karang, di sepanjang pantai dan teluk-teluk. Karena itulah organisma ini dikenali dengan nama udang karang atau lobster.
Mereka kurang menyukai tempat-tempat yang sifatnya terbuka dan terlebih arus yang kuat. Tempat-tempat yang disukai adalah perairan yang terlindung. Berdasarkan pengalaman nelayan, udang karang banyak terdapat di tempat-tempat yang memiliki kedalaman perairan 10–15 meter.
Kebiasaan hidupnya merangkak di dasar laut berkarang, di antara karang-karang, di gua-gua karang, dan di antara bunga karang. Berdasarkan kebiasaannya merangkak, maka lobster dikatakan tidak pandai berenang, walaupun memiliki kaki renang.
Lobster termasuk haiwan nokturnal yang aktif pada malam hari, keluar meninggalkan sarangnya untuk mencari makan dan pasif di siang hari. Haiwan nokturnal memiliki memiliki aktiviti yang tinggi pada permulaan menjelang malam dan berhenti beraktiviti dengan tiba-tiba ketika matahari terbit.
Mereka menjadikan moluska dan echinodermata sebagai makanan yang paling digemarinya, selain ikan dan protein haiwan lainnya, terutama yang mengandung lemak, serta jenis algae. Udang kara dapat digolongkan sebagai haiwan yang mengasuh dan memelihara keturunannya walaupun sifatnya hanya sementara.
Lobster betina yang sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan butir-butir telurnya pada bahagian bawah abdomen hingga telur tersebut menetas menjadi larva udang.
Menjelang akhir period pengeluaran telur dan setelah disenyawakan, lobster akan bergerak menjauhi pantai dan menuju ke perairan karang yang lebih dalam untuk penetasan. Jumlah telur yang dihasilkan setiap ekor betina lobster dapat mencapai lebih dari 400,000 biji.
Larva lobster memiliki bentuk yang sangat berbeda dari yang dewasa. Larva pada stadium filosoma misalnya, mempunyai bentuk yang pipih seperti daun sehingga mudah terbawa arus.
Semenjak telur menetas menjadi larva hingga mencapai tingkat dewasa dan akhirnya mati, maka selama pertumbuhannya, lobster selalu mengalami pergantian kulit (moulting). Pergantian kulit tersebut lebih sering terjadi pada peringkat larva. Secara umum dikenali ada tiga tahap peringkat larva, iaitu naupliosoma, filosoma, dan puerulus.
Perubahan dari tahap ke tahap berikutnya selalu terjadi pergantian kulit yang diikuti perubahan-perubahan bentuk (metamorphose) yang terlihat dengan adanya modifikasi-modifikasi terutama pada alat geraknya.
Pada peringkat filosoma iaitu bahagian pergantian kulit yang terakhir, terjadi peringkat baru yang bentuknya sudah mirip lobster dewasa walaupun kulitnya belum mengeras.
Pertumbuhan berikutnya setelah mengalami pergantian kulit lagi, terbentuklah lobster muda yang kulitnya sudah mengeras karena diperkuat dengan zat kapur. Bentuk dan sifatnya sudah mirip lobster dewasa (induknya) atau disebut sebagai juvenil.
Panjang tubuhnya dapat mencapai 120cm. Sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek (barbel) yang berguna sebagai deria pengesan.
Sirip dorsal memiliki duri keras yang berubah menjadi patil yang besar serta bergerigi di tepiannya, sedangkan duri-duri lembut pada sirip dorsal terdapat 6 – 7 unit.
Pada permukaan belakang badannya ada sirip dorsal kedua (adipose fin) yang ukurannya sangat kecil dan sirip kaudalnya membentuk cagak dengan bentuk simetris.
Sirip analnya agak panjang dan mempunyai 30 – 33 duri-duri lembut lunak, sirip pelviknya terdapat 6 duri-duri lembut.
Sedangkan sirip pektoral terdapat satu duri keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal sebagai patil (sengat) dan memiliki 12-13 duri lembut.
Habitat dan Tabiat Ikan Patin
Habitat ikan patin ialah di tepi sungai–sungai besar dan di muara-muara sungai dan tasik. Jika dilihat dari bentuk mulut ikan patin yang letaknya sedikit agak ke bawah, maka ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar perairan.
Ikan patin begitu terkenal dan digemari oleh masyarakat kerana daging yang enak dikonsumsi. Patin dikenali sebagai haiwan yang bersifat nokturnal, iaitu melakukan aktiviti atau aktif pada malam hari. Ikan ini suka bersembunyi di liang-liang tepi sungai.
Larva ikan patin di alam semulajadi biasanya bergerombolan dan sesekali muncul di permukaan air untuk menghirup oksigen dari udara pada menjelang awal pagi.
Untuk ternakan ikan patin, medium atau lingkungan yang diperlukan tidaklah rumit, kerana patin termasuk golongan ikan yang mampu bertahan pada lingkungan perairan yang berkualiti rendah.
Walaupun patin dikenal ikan yang mampu hidup pada lingkungan perairan yang rendah kualiti, namun ikan ini lebih menyukai perairan dengan kondisi perairan bersih.
Sotong gurita atau kurita adalah haiwan moluska dari class Cephalopoda (kaki haiwan terletak di kepala), order Octopoda dengan menjadikan terumbu karang di lautan sebagai habitat utama.
Kurita terdiri dari 289 spesies yang mencakupi sepertiga dari jumlah spesies kelas Cephalopoda.
Kurita dalam bahasa global disebut Octopus ( dari bahasa Yunani yang membawa maksud lapan kaki).
Morfologi
Kurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cengkung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa.
Lengan kurita merupakan struktur muscular hydrostat yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar.
Tidak seperti haiwan Cephalopoda lainnya, sebagian besar kurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam.
Gurita tidak memiliki cengkerang sebagai pelindung pada bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cengkerang dalam atau tulang seperti sotong.
Paruh adalah bahagian terkeras dari tubuh kurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bahagian-bahagian kecil.
Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari pemangsa seperti belut laut Moray.
Kurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cengkerang dalam sehingga kemampuan untuk menyelinap ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.
Kurita mempunyai jangka hayat yang relatif singkat dan beberapa spesies hanya hidup selama 6 bulan.
Spesies yang lebih besar seperti kurita raksasa Pasifik Utara yang beratnya mampu mencapai 40kilogram hidup sampai 5 tahun di bawah kondisi lingkungan yang sesuai.
Reproduksi merupakan salah satu sebab kematian, gurita jantan hanya mampu hidup beberapa bulan setelah mengawan dan gurita betina mati mati tidak lama setelah bertelur.
Kematian disebabkan kelalaian kurita untuk makan selama sekitar satu bulan sewaktu menjaga telur-telur yang belum menetas.
Bahagian perut tubuh kurita disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung.
Kurita memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk mengepam darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk mengepam darah ke seluruh bagian tubuh.
Darah kurita mengandung protein Hemosianin yang kaya dengan tembaga untuk mengangkut oksigen.
Dibandingkan dengan Hemoglobin yang kaya dengan zat besi, Hemosianin kurang efisien dalam mengangkut oksigen.
Hemosianin larut dalam plasma dan tidak diikat oleh sel darah merah sehingga darah kurita berwarna biru pucat.
Kurita bernapas dengan menyedut air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon.
Kurita memiliki insang dengan pembahagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.
Tahu ke anda bahawa memancing ketika hujan, memberi anda peluang lebih baik untuk menangkap lebih banyak ikan. Memang betul, tetapi ia memerlukan sedikit perencanaan...